Partai Indonesia Raya
Partai Indonesia Raya atau Parindra adalah suatu partai politik yang berdasarkan nasionalisme Indonesia dan menyatakan
tujuannya adalah Indonesia Mulia dan Sempurna (bukan Indonesia Merdeka).
Parindra menganut azas cooperatie alias bekerja sama dengan pemerintah Hindia Belanda dengan cara duduk di dalam
dewan-dewan untuk waktu yang tertentu.
Daftar
Isi:
1. Sejarah
2. Tokoh
3. Kegiatan
1. Sejarah
2. Tokoh
3. Kegiatan
1. Sejarah
Dr.
Soetomo, salah seorang pendiri Budi Utomo, pada akhir tahun 1935 di kota Solo, Jawa Tengah berusaha untuk menggabungkan antara PBI (Persatuan Bangsa Indonesia), Serikat Selebes, Serikat Sumatera, Serikat Ambon, Budi Utomo, dan lainnya,
sebagai tanda berakhirnya fase kedaerahan dalam pergerakan kebangsaan, menjadi
Partai Indonesia Raya atau Parindra. PBI sendiri merupakan klub studi yang
didirikan Dr. Soetomo pada tahun 1930 di Surabaya, Jawa Timur.
2. Tokoh
Tokoh-tokoh
lain yang ikut bergabung dengan Parindra antara lain Woeryaningrat, Soekardjo Wirjopranoto, R. Panji Soeroso dan Mr. Soesanto Tirtoprodjo.
3. Kegiatan
Parindra
berusaha menyusun kaum tani dengan mendirikan Rukun
Tani, menyusun serikat pekerja perkapalan dengan mendirikan Rukun
Pelayaran Indonesia (Rupelin), menyusun perekonomian dengan menganjurkan Swadeshi
(menolong diri sendiri), mendirikan Bank Nasional Indonesia di Surabaya,
serta mendirikan percetakan-percetakan yang menerbitkan surat kabar dan
majalah.
Kegiatan
Parindra ini mendapat semakin mendapatkan dukungan dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada saat
itu, van Starkenborg, yang menggantikan de Jonge pada tahun 1936. Gubernur Jenderal van Starkenborg memodifikasi politiestaat
peninggalan de Jonge, menjadi beambtenstaat(negara pegawai) yang memberi
konsensi yang lebih baik kepada organisasi-organisasi yang kooperatif dengan pemerintah Hindia Belanda.
Pada
tahun 1937, Parindra memiliki anggota 4.600 orang. Pada
akhir tahun 1938, anggotanya menjadi 11.250
orang. Anggota ini sebagian besar terkonsentrasi di Jawa Timur. Pada bulan Mei 1941 (menjelang perang
Pasifik), Partai Indonesia Raya diperkirakan memiliki anggota sebanyak 19.500
orang.
Ketika
Dr. Soetomo meninggal pada bulan Mei 1938, kedudukannya sebagai ketua Parindra
digantikan oleh Moehammad Hoesni Thamrin, seorang pedagang dan anggota Volksraad. Sebelum menjadi ketua
Parindra, Moehammad Hoesni Thamrin telah mengadakan kontak-kontak dagang dengan
Jepang sehingga ia memainkan kartu Jepang
ketika ia berada di panggung politik Volksraad.
Karena
aktivitas politiknya yang menguat dan
kedekatannya dengan Jepang, pemerintah Hindia Belanda menganggap Thamrin lebih
berbahaya daripada Soekarno. Maka pada tanggal 9 Februari 1941, rumah Moehammad Hoesni
Thamrin digeledah oleh PID (dinas rahasia Hinda Belanda) ketika ia sedang
terkena penyakit malaria, selang dua hari kemudian
Muhammad Husni Thamrin menghembuskan nafas yang terakhir.
Salah
satu bukti kedekatan Parindra dengan Jepang yaitu ketika Thamrin meninggal
dunia, para anggota Parindra memberikan penghormatan dengan mengangkat tangan
kanannya. Bukti lain adalah pembentukan gerakan pemuda yang disebut Surya
Wirawan (Matahari Gagah Berani), yang disinyalir nama ini bertendensi
dengan negara Jepang.
Dengan
demikian Parindra digambarkan sebagai partai yang bekerjasama dengan
pemerintahan Hindia Belanda di awal berdirinya, akan tetapi dicurigai di akhir
kekuasaan Hindia Belanda di Indonesia pada tahun 1942 sebagai partai yang bermain mata dengan Jepang
untuk memperoleh kemerdekaan.